Rangkaian Event Ini Jadi Penggerak Nadi Ekonomi Kota Magelang
Kamis, 17 September 2026

Rangkaian event akan digelar sepanjang September hingga November 2026 di Kota Magelang.
KOTA MAGELANG — Rangkaian event akan digelar sepanjang September hingga November 2026 di Kota Magelang. Ini sebagai salah satu penggerak aktivitas ekonomi dan kehidupan kota.
Bukan sekadar agenda hiburan, berbagai kegiatan tersebut diarahkan untuk mendatangkan masyarakat, menghidupkan pelaku usaha, sekaligus menggaungkan Kota Magelang.
Hal itu disampaikan Wali Kota Magelang Damar Prasetyono dalam konferensi pers di Kantor Wali Kota Magelang, Rabu (16/9/2026). Konferensi pers tersebut dihadiri seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) yang menjadi pemangku kegiatan.
"Event adalah nafas, denyut nadi pertumbuhan ekonomi masyarakat," katanya.
Empat agenda yang disiapkan yakni Borobudur Indonesia Expo 2026, Magelang Flower Festival 2026, Merti Gunung Tidar 2026, serta Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Jawa Tengah Magelang Open Master Championship.
Rangkaian dimulai dengan Borobudur Indonesia Expo yang berlangsung 17–20 September 2026 di Alun-Alun Kota Magelang.
"Alun-alun memang epicentrum kegiatan-kegiatan di Kota Magelang," paparnya.
Event bertema "Membangun Bersama, Memperkuat Ekonomi Masyarakat" ini mempertemukan UMKM, ekonomi kreatif, koperasi, pariwisata, investasi, kementerian, serta pemerintah daerah di kawasan Borobudur. Kegiatan ini ditargetkan dihadiri oleh 40.000 pengunjung.
Aktivitas kota berlanjut melalui Magelang Flower Festival (MFF) pada 25 Oktober–1 November 2026. Bunga atau flora diangkat sebagai kekuatan budaya, pariwisata, kreativitas, edukasi, sekaligus ekonomi.
"Sejumlah kegiatan akan mengisi festival, mulai dari seni, pameran, karnaval, fesyen hingga edukasi flora dan aktivitas masyarakat," papar Damar.
Dua agenda yang menjadi bagian dari festival adalah Senam ASRI yang menargetkan 10.000 peserta pada 30 Oktober serta Magelang Ethno Carnival pada 1 November 2026.
Setelah itu, Merti Gunung Tidar digelar 6–8 November 2026. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan tradisi, tetapi menjadi bagian dari upaya merawat Gunung Tidar sebagai warisan sejarah, budaya, spiritual, dan ekologis Kota Magelang.
Lanjut Damar, masyarakat menjadi bagian penting dalam agenda tersebut. Sebanyak 192 RW se-Kota Magelang direncanakan membawa tumpeng sebagai simbol gotong royong dan kebersamaan, disertai rangkaian reresik, ritual dan doa, kirab budaya, pagelaran kesenian, serta pembagian tumpeng dan kembul bujana.
Sementara itu, sektor olahraga ada Magelang Open Master Championship pada 13–15 November 2026 di Samapta Aquatic Stadium Kota Magelang. Kejuaraan yang memperebutkan Piala Wali Kota Magelang itu ditargetkan diikuti 1.000 atlet dari klub-klub renang se-Jawa Tengah.
Selain rangkaian event, Pemkot Magelang juga akan membangun Monumen Paku Bumi di simpang Bayeman dalam waktu dekat. Monumen ini dirancang tidak sekadar memperkuat wajah kota, tetapi juga membawa filosofi paku sebagai simbol kekuatan, keteguhan, persatuan, dan fondasi kokoh pembangunan Kota Magelang.
"Monumen Paku Bumi diharapkan menjadi landmark ikonik, jadi identitas visual Kota Magelang yang mudah dikenali, sekaligus memperkuat citra dan daya tarik Kota Magelang," imbuhnya. (prokompimkotamgl)

