Ratusan warga Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah kembali mengiringi kirab grebeg besar Tuk Kyai Songo, Kamis (14/9). Kirab Grebeg ini dimulai dari lapangan kwarasan menuju ke komplek makam Kyai Tuk Songo.

Dalam kirab ini beberapa orang tampil di depan dengan pakaian bergada yang memikul sebuah tempayan yang berisi masakan gulai kambing. Di belakang ada barisan ibu-ibu yang membawa layah yang berisi masakan gulai disusul dengan kelompok yang membawa gunungan hasil bumi dan diikuti dengan kelompok kesenian tradisional.

Sebelumnya grebeg besar ini dikenal masyarakat dengan grebeg gulai namun seiring berjalannya waktu diubah menjadi grebeg besar dan kirab gunungan palawija sebanyak dua buah sekaligus kirab dua ekor kambing yang akan dijadikan gulai.

Menurut Camat Magelang Tengah Tugono, tradisi grebeg ini sudah dilakukan secara turun temurun. Selain untuk melestarikan tradisi juga sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh adat setempat yang bernama Kyai Tuk Songo sekaligus sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ia pun menjelaskan bahwa menurut leluhur kampung gulai berfungsi sebagai penolak bencana (pagebluk) yang dapat menyerang warga sehingga sampai saat ini gulai masih dipakai dalam acara grebeg ini.

Lurah Cacaban, Adhika Kudiarsa mengatakan kegiatan ini terus dikemas dengan baik agar semakin meriah dan kreatif. Masing-masing RW pun dilibatkan langsung dalam kegiatan ini. Setiap RW menampilkan kelompok bergodo masing-masing untuk mengiringi kirab grebeg besar.

Ia pun menjelaskan rangkaian kegiatan selain kirab juga akan dilakukan Haul yang dilaksanakan di komplek makam Kyai Tuk Songo. Ada ceramah agama dan pembacaan doa yang dipimpin seorang kyai atau ustad pada acara haul yang rencananya dilaksanakan hari Jumat(15/9).

Suasana tradisonal sangat kental dalam acara ini terlihat dari pemakaian pakaian adat jawa dan iringan musik gending jawa selama cara berlangsung. Sebelum arak-arakan dimulai digelar sendratari yang menceritakan asal usul hadirnya grebeg besar atau grebeg gulai di kelurahan Cacaban.

Dalam sendratari tersebut diceritakan bagaimana pada jaman dulu di wilayah cacaban terjadi pagebluk dan banyak warga sakit kemudian meninggal dunia.Kejadian tersebut menggerakkan hati Kiai Kodri untuk melaksanakan mujahadahan di tepi aliran Kali Progo guna memohon keselamatan.

Kyai Tuk Songo sendiri sebenarnya merupakan nama samaran dari Kiai Ahmad Abdussalam yang merupakan slah satu murid Pangeran Diponegoro yang beraal dari Keraton Surakarta. Konon kabarnya Kyai Tuk Songo merupakan teman Kyai Langgeng yang sama-sama berjuang melawan penjajah belanda.(Ris/Hms)