Pelajar SD-SMP Kota Magelang Sadari Pentingnya Olah Sampah

Pelajar tingkat dasar (SD) dan menengah pertama (SMP) di Kota Magelang mulai menyadari pentingnya menjaga lingkungan. Kesadaran ini dimulai dari siswa yang senantiasa mengumpulkan dan memilah sampah organik dan anorganik.

Tidak hanya mengumpulkan dan memilah, mereka juga memanfaatkan kembali sampah tersebut, sehingga memiliki nilai lebih. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik bisa dijual kembali atau dibuat kerajinan.

Seperti dilakukan pelajar SD Jurangombo 2 Magelang dan SMP 7 Magelang. Para pelajar di dua sekolah ini sudah mulai giat mengumpulkan, memilah, dan mendaur ulang sampah di lingkungan sekolah masing-masing.

Kepala SD Jurangombo 2, Sri Istiarsih mengatakan, pihaknya memiliki program khusus untuk meningkatkan kesadaran siswa dalam mengurangi limbah sampah anorganik. Pelajar setiap hari diajak mengumpulkannya, seperti botol plastik, kertas, hingga kardus.

“Dari hasil itu, siswa kami ajak untuk menuangkan kreasinya dengan membuat kerajinan tangan. Kerajinan yang dibuat tergantung dari sampah yang terkumpul,” ujarnya di sela upacara bendera yang dipimpin Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito, Senin (29/1).

Dia mengemukakan, pembuatan kerajinan dari sampah ini diberlakukan bagi siswa kelas I-VI. Hingga sekarang, kerajinan yang sudah dihasilkan di antaranya vas bunga, pigura, tempat pensil, hiasan lampu, tempat tisu, bunga, dan lainnya. 

“Hasil ini ada yang dipajang di kelas, perpustakaan, dan ada yang dibawa pulang siswa. Melalui program ini, kami harap siswa paham arti penting pengolahan sampah, terutama sampah anorganik. Sehingga, muncul kepedulian untuk mengurangi produksi sampah,” jelasnya.

Berbeda yang dilakukan oleh siswa SMP 7 Magelang dalam mengolah sampah. Sampah yang dikumpulkan siswa setiap hari di tiap kelas langsung dilakukan penimbangan dan dihargai. Hasil dari penjualan sampah anorganik ini 90 persen untuk kas kelas, sisanya kas OSIS.

“Sampah plastik dan kertas dihargai Rp 1.500/kg. Selain berguna menambah kas kelas dan usaha penggalangan dana OSIS, juga untuk menumbuhkan kepedulian siswa terhadap kelestarian lingkungan,” kata Kepala SMP 7 Magelang, Parjopo.

Parjopo menyebutkan, pengumpulan sampah kertas dan plastik merupakan ide dari Laskar Penyelemat Bumi yang dibentuk OSIS. Pembentukan laskar ini bertujuan untuk menggerakkan kegiatan adiwiyata di sekolah yg sekarang ini sudahmenjadi kegiatan Ekskul.

“Hal ini sesuai dengan visi sekolah, yakni mewujudkan sekolah yg religius, berkarakter, cerdas literasi, dan berwawasan lingkungan (Super Cling),” ungkapnya.