Belum Sebulan, Kota Magelang Ciptakan 2 Rekor Baru Panen Ubinan Padi Sawah, Tertinggi 13,2 Ton GKP/ha

MAGELANG – Belum sebulan mencapai rekor tertinggi panen ubinan padi sawah, Kota Magelang rabu (27/11/2019) kembali menciptakan rekor baru ubinan padi sawah di penghujung tahun 2019. Seperti diketahui rekor panen ubinan yang baru dipecahkan pada hari kamis lalu (21/11/2019) lalu mencapai 12,64 ton GKP/hektar, hari rabu kembali dipertajam menjadi 13,2 ton GKP/ha. Hasil ubinan ini terangkum melalui kegiatan panen ubinan padi sawah oleh petugas BPS Kota Magelang bersama petani di titik sampel Kampung Tulung Kelurahan Magelang.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang, Eri Widyo Saptoko mengapresiasi penajaman rekor hasil ubinan padi sawah di Kota Magelang. Eri menegaskan sinergi semua pihak terkait mulai petani, penyuluh pertanian hingga Bidang pertanian punya kontribusi positif atas capaian tersebut. Untuk itu ia meminta capaian hasil ubinan tersebut untuk terus dipertahankan dan menjadi penyemangat untuk berbuat lebih baik dalam musim tanam selanjutnya.

Dikatakannya Kota Magelang sebagai wilayah terkecil di provinsi Jawa Tengah, masih memiliki kontribusi dalam penyediaan pangan khususnya beras di Jawa Tengah meskipun tidak cukup signifikan terhadap peningkatan produksi padi nasional. Sampai saat ini, lanjut Eri, di Kota Magelang masih terdapat 142,83 ha lahan pertanian produktif berbentuk sawah irigasi teknis yang potensial untuk pengembangan sektor pertanian. “Angka-angka panen ubinan yang diperoleh di lahan petani semakin menguatkan optimisme bahwa produksi padi sawah di Kota Magelang tahun 2019 akan mampu melampaui sasaran produksi 2.359 ton GKP,”tegasnya.

Dalam kesempatan ini Eri menekankan pihaknya (Disperpa)  terus mendorong petani untuk menerapkan prinsip-prinsip SLPHT dalam Budidaya Tanaman Sehat (BTS). Melalui BTS, petani akan memperoleh peningkatan kuantitas dan kualitas hasil panen padi, perbaikan daya dukung lingkungan sawah sekaligus pelestarian keseimbangan ekosistem dan rantai makanan di persawahan. “Saya berharappetani sebagai pelaku utama pertanian untuk terus mencoba inovasi baru dan mengikuti rekomendasi penyuluh pertanian,”tandasnya.

Terinformasi adalah Lukas Radja Tuka, petani pemecah rekor ubinan panen padi tertinggi di Kota Magelang. Petani binaan Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang itu saat ini tergabung dalam Poktan Subur Makmur Gapoktan Sri Rejeki. Menurut pengakuannya tidak ada yang berbeda dalam perlakuan selama budidaya padi sawah dengan petani lainnya. Di lahan seluas 1.200 meter persegi, Lukas menanam padi unggul lokal yang sering disebutnya padi galur, varietas yang juga sering ditanam rekan-rekannya. Namun ada satu hal yang menarik dalam aplikasi pupuk. Kalau biasanya petani banyak menggunakan pupuk urea, kali ini Lukas hanya menggunakan pupuk majemuk dan pupuk organik. “Saya menggunakan pupuk npk cuma 25 kg dan sebagian besar lainnya menggunakan pupuk organik,”ujarnya.

Ia tidak menyangka hasil ubinan musim ini di lahannya menjadi yang tertinggi di Kota Magelang. Padahal biasanya ia hanya mampu panen di kisaran 7,5-8 ton GKP/hektar. Menurut Lukas, ketekunannya bersama keluarga untuk merawat tanaman padi sawah berbuah hasil yang membanggakan. “Kalau. kita sayang dengan tanaman yang kita budidayakan, tanaman pun akan membalasnya dengan hasil baik pula sesuai harapan kita,”jelasnya.

Terkait hasil tersebut, Among Wibowo, Penyuluh Pertanian Madya di Kecamatan Magelang Tengah mengungkapkan kegembiraannya.  Sejauh ini dengan 2 kali pemecahan rekor panen ubinan di wilayahnya dengan interval waktu kurang dari seminggu merupakan sebuah prestasi luar biasa bagi petaninya di Kampung Tulung Kelurahan Magelang. Budaya kompetisi antar petani dan menjalankan teknis budidaya sesuai rekomendasi pemerintah menjadi pemicu utama para petani untuk terus mendongkrak produktivitas lahannya masing-masing.

Beberapa teknis budidaya padi sawah yang direkomendasikan Among untuk dijalankan petani antara lain pergiliran varietas, tanam bibit muda, pengairan berselang, pemupukan berimbang, PHT dan penanganan panen. “Petani di Tulung (Kelurahan Magelang, red) perlahan sudah mulai menyadari dan mengikuti saran dan masukan petugas pertanian di lapangan. Termasuk pergiliran varietas, yang saya nilai krusial pada saat petani menghadapi musim tanam ekstrim,”pungkasnya. (amw, red)