Menilik SLPHT Minggu Ke-11: Perkuat Kemandirian Poktan, Disperpa Pendampingan Petani Praktek Pembuatan PGPR dan Bakteri Merah

MAGELANG–Memasuki minggu kesebelas pelaksanaan Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT), Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang hari rabu (23/10/2019) menggelar pengamatan intensif terhadap hama utama padi sawah sekaligus praktek pembuatan PGPR (Plant Growth Promoting Regulator) dan Bakteri Merah. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya pencegahan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara dini. Selain itu pembuatan PGPR dan Bakteri Merah diharapkan dapat memperkuat kemandirian kelompok tani (poktan) dalam kegiatan usaha taninya. Kegiatan diikuti 25 orang petani di Kelurahan Magelang, POPT dan Penyuluh Pertanian.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko mengungkapkan kemandirian poktan sangat penting agar petani  mempunyai daya saing dan semakin kompetitif menghadapi era pertanian 4.0.  Menurut Eri, petani yang sudah dapat memproduksi sebagian kebutuhan saprodinya sendiri, semisal PGPR, bakteri merah dan saprodi lainnya akan lebih efisien dalam menjalankan usahatani. “Petani yang efisien akan dapat memproduksi dan memasarkan hasil pertaniannya dengan harga yang lebih baik,”katanya.

Eri mengungkapkan pemanfaatan PGPR dan Bakteri Merah akan mengarahkan petani menuju pertanian organik yang lebih ramah lingkungan. Ke depan, lanjutnya, petani tidak hanya diharapkan untuk mencapai target produksi saja namun juga target kualitas seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan yang sehat dan aman. “Mudah-mudahan petani kita di Kota Magelang dapat menangkap peluang bisnis produk organik atau setidaknya produk ramah lingkungan karena harga jualnya yang lebih menguntungkan bagi petani,”imbuhnya.

Sementara itu,  Ahmad Sholikhun, Kasi Tanaman Pangan dan Hortikultura bersama Made Redana, POPT sekaligus fasilitator kegiatan dalam kesempatan ini mendampingi praktek pembuatan PGPR dan Bakteri Merah oleh petani peserta SLPHT. PGPR, lanjutnya, sangat penting karena memiliki 3 fungsi sekaligus. Pertama sebagai bioprotectan yang akan melindungi tanaman dari serangan OPT selama fase yang dialaminya (sebagai imunisasi).  Kedua sebagai biofertilizer, PGPR juga dapat berperan sebagai pupuk organik bagi tanaman petani. Ketiga sebagai biofitohormon, PGPR mempunyai peran krusial sebagai zat pengatur tumbuh yang membantu reaksi ezimatis dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sedangkan Bakteri Merah sangat penting dalam membantu keserempakan proses pemasakan calon hasil produksi pangan seperti malai gabah, buah-buahan dan hasil lainnya. “Kami berharap PGPR dan Bakteri Merah yang sudah dapat dibuat sendiri ini dapat mendukung peningkatan produksi padi petani di Kampung Tulung,”timpalnya.

Terpisah, Among Wibowo, Penyuluh Pertanian Madya mengungkapkan secara umum pertanaman padi SLPHT masih on the track, namun perlu mewaspadai serangan walang sangit. Dia menghimbau anggota poktan untuk segera melakukan langkah pengendalian walang sangit dengan memanfaatkan PGPR dan pestisida nabati yang sudah dibuat minggu lalu. “Segera, untuk bisa dilakukan pengendalian terhadap walang sangit dengan PGPR dan pestisida nabati yang ada,”tegasnya.

Among juga mengamini statement Kadisperpa tentang perlunya peningkatan daya saing petani di Kota Magelang. Menurutnya ditengah semakin menyempitnya lahan pertanian di Kota Magelang, petani perlu terus didorong untuk melek teknologi sembari meningkatkan kemampuannya untuk menghasilkan produk-produk organik atau setidaknya yang ramah lingkungan. Ke depan, lanjutnya, era pertanian kita sudah mengarah pada isu sumber pangan organik atau ramah lingkungan dengan pemanfaatan teknologi pertanian 4.0. “Saat ini bisa kita lihat wujudnya dalam teknologi mekanisasi pertanian seperti traktor autonomous, drone untuk kegiatan tanam dan pemupukan padi serta sejumlah teknologi lainnya,”tandasnya. (amw,red)