Masuki Minggu Kedua SLPHT, Disperpa Kenalkan Agroekosistem, Pembuatan Petak Petani dan Petak PHT

MAGELANG – Memasuki minggu kedua pelaksanaan Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT), Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang rabu (21/08/2019) memperkenalkan komponen agroekosistem sawah dan pembuatan petak petani dan petak HPT kepada petani. Kegiatan yang bertujuan untuk memberikan edukasi awal terkait konsep SLPHT ini diikuti sekitar 25 petani anggota poktan Subur Makmur Magelang, POPT dan Penyuluh Pertanian Kota Magelang. Kegiatan berlangsung menarik dan mampu menambah wawasan baru bagi petani dalam mengelola agroekosistem sawahnya secara lebih baik.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam pointers yang disampaikan Kasi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Ahmad Sholikhun menjelaskan bahwa kegiatan yang bersumber dari dana APBD Kota Magelang itu dilaksanakan secara rutin mingguan hingga 12 kali, mulai Agustus hingga Nopember mendatang. Setiap kali pertemuan dilaksanakan menurut tema pembelajaran yang berbeda, sesuai kurikulum yang disusun fasilitator kegiatan yang ditunjuk. Adapun metode belajar yang diterapkan berbasis pengalaman dengan menitikberatkan kepada metode Pendidikan Orang Dewasa (POD) atau andragogy. “Pembelajaran petani akan berupa praktek lapang, presentasi dan diskusi kelompok dengan kemasan versi petani,”katanya.

Terkait kegiatan SLPHT minggu kedua, I Made Redana, POPT yang juga bertindak sebagai fasilitator kegiatan menekankan pentingnya petani mengenal agroekosistem sawah dan komponennya. Di dalam agroekosistem sawah, lanjutnya, petani perlu mengenal komunitas hewan dan tumbuhan yang menjadi pendukung maupun pembatas dalam produksi padi di lahan sawahnya. “ Saat ini petani harus mampu mengenali apa saja yang dinamakan hama, penyakit dan musuh alami. Kapan harus dikendalikan dan kapan harus dibasmi dengan pestisida nabati,”jelasnya.

Senada dengan Made, Abdul Z. Rochim, Penyuluh Pertanian Penyelia pada Disperpa mendorong petani untuk banyak belajar mengenali dan mampu membedakan hama, penyakit dan musuh alami. Hal ini menurut Abdul menjadi sangat penting agar petani mampu mengendalikan  hama dan penyakit sesuai konsep SLPHT yang benar. “Monggo bapak ibu banyak-banyak belajar dan bertukar pikiran dengan petani yang lain dan aparat Pemerintah bagaimana mengendalikan hama/penyakit secara PHT,”ujarnya memotivasi peserta yang hadir.

 

Terkait jalannya kegiatan diawali dengan pembuatan petak petani dan petak PHT. Seperti diketahui ke-25 peserta dibagi dalam 5 kelompok kecil. Masing-masing kelompok kecil membuat 10 petak petani dan 10 petak PHT. Petak petani adalah lahan sawah yang dibudidayakan menurut kebiasaan petani setempat, sedangkan petak PHT adalah lahan sawah yang dijadikan percontohan karena dibudidayakan sesuai rekomendasi Disperpa mengacu pada konsep Budidaya Tanaman Sehat (BTS). Adapun varietas padi yang digunakan pada petak petani adalah varietas IR-64, sedangkan petani PHT adalah varietas Ciherang.

Setelah pembuatan petak petani dan petak PHT, kegiatan dilanjutkan dengan pengamatan tinggi tanaman, jumlah rumpun dan keberadaan musuh alami. Masing-masing kelompok kecil membuat paparan pada kertas kerja dan mempresentasikan hasil pengamatan kelompok di hadapan seluruh peserta SLPHT. Kegiatan diakhiri dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk persiapan kegiatan minggu depan.

Terkait RTL, Among Wibowo, Penyuluh Pertanian Madya pada Disperpa menegaskan akan mengawal langsung pelaksanaan kegiatan pengendalian gulma, pemupukan dasar dan penyemprotan asap cair dan pestisida nabati lainnya di petak PHT pada hari sabtu (24/08/2019) dan senin (26/08/2019). Sehingga diharapkan sudah ada perubahan yang signifikan antara petak petani dan petak PHT pada kegiatan selanjutnya. Dalam kesempatan tersebut Among  juga mengingat petaninya untuk  merawat proses pembibitan tanaman refugia bunga matahari dan kenikir. “Mudah-mudahan pertumbuhan bibit tanaman refugia baik dan optimal mendukung kegiatan SLPHT ini,”imbuhnya (amw,red)