Inspeksi Mendadak ke SMA Kristen Indonesia

Walikota Magelang Ir Sigit Widyonindito melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMA Kristen Indonesia, Jalan Beringin VII/1 Magelang, Senin (13/1). Di sekolah asrama tersebut, Sigit menekankan tentang semangat belajar kepada para peserta didik yang berjumlah 52 siswa tersebut.

Sigit bersama dengan Wakil Walikota, Joko Prasetyo, Kepala Dinas Pendidikan Kota Magelang, Djarwadi dan pejabat pemkot terkait datang sekitar pukul 06.50 WIB. Para pejabat ini juga mengikuti upacara bendera yang diadakan di sekolah tersebut. Usai menggelar upacara, mereka melakukan monitoring kepada para guru dan siswa.

”Ini menjadi agenda rutin, sekadar memberikan motivasi kepada peserta didik, supaya tekun belajar, sungguh-sungguh dan dapat berdisiplin,” katanya, saat ditemui, usai menjadi inspektur upacara di sekolah yang berada di daerah perbatasan Kota dan Kabupaten Magelang itu.

Ia menurutkan, pantauan ke sekolah swasta kali ini, karena pihaknya sama sekali tidak melakukan pembedaan terhadap sekolah negeri yang ada di wilayahnya.

”Cukup bangga ya, karena di sekolah ini sudah ada asramanya. Termasuk jadi bagian di Kota Magelang juga,” tuturnya.

Dari kacamata dia, pelayanan yang ada di sekolah tersebut dirasa sudah cukup baik. Bahkan, saat sidak digelar tak satupun, papar dia, ada guru yang terlambat datang.

”Meskipun jumlah siswanya sedikit tapi bukan berarti para guru ini patah semangat. Bangga, tidak ada guru yang terlambat. Harus, ini dijadikan cerminan yang baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SMA Kristen Indonesia, Agnes Wiwin mengaku bangga mendapat tamu kehormatan orang nomor satu di Kota Magelang. Hal tersebut pun diakuinya sebagai sebuah kejutan, lantaran tak ada persiapan sebelumnya.

Menurut Wiwin, di sekolah yang dipimpinnya itu mayoritas adalah siswa berasal dari luar daerah. Bahkan tercatat hanya ada satu siswa dari Kota Magelang.

”Kebanyakankan dari luar kota, cuma satu kalau dari kota. Karena memang sekolah ini didesain sekolah berasrama,” ucapnya.

Di sekolah yang berdiri pada tahun 1981 ini, lanjutnya, memiliki kapasitas setidaknya 90 siswa. Selain penekanan materi pembelajaran kurikulum, pihak guru juga memberikan pendalaman mental dan spiritual di luar jam belajar.

”Sampai malam pun para siswa sudah terjadwal. Namun, kalau dibilang sama dengan sekolah militer, di sini sangat berbeda. Cenderungnya, penekanan spiritual dan mental saja kalau yang di luar jam sekolah,” tutur Wiwin.