Tak Kenal Lelah, Disperpa Kota Magelang Dorong Produksi dan Diversifikasi Ternak Kelinci Di Masa Pandemi Covid 19

MAGELANG – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang tak kenal lelah untuk terus mendorong masyarakat mengembangkan agribisnis ternak kelinci. Terbukti selama 2 (dua) hari sejak selasa hingga rabu, 15-16 September 2020, Disperpa bekerjasama dengan Komunitas Kelinci Kota Magelang, giat menggelar kegiatan pelatihan berbasis kelinci di aula Disperpa. Kegiatan pelatihan yang menerapkan protokol kesehatan covid 19 itu pada hari pertama fokus pada Budidaya Ternak Kelinci, sedangkan hari kedua fokus pada Manajemen Pemasaran Ternak Kelinci. Kegiatan ini diikuti 15 peternak yang tergabung dalam komunitas kelinci Kota Magelang. Didukung narasumber dari Republik Terwelu, kegiatan ini dimaksudkan untuk terus mendorong masyarakat Kota Magelang dalam agribisnis ternak kelinci dan mendukung upaya pengembangan Integrated Urban Farming (Pertanian Perkotaan Terpadu) di Kota Sejuta Bunga. Selesai pelatihan, para peserta memperoleh paket bahan percontohan masing-masing berupa sepasang ternak kelinci dan pakan sebagai modal awal budidaya kelinci.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko ditemui di ruang kerjanya, jumat (18/09/2020) menegaskan kembali pentingnya ternak kelinci sebagai bagian tak terpisahkan dalam pengembangan Integrated Urban Farming di Kota Magelang, khususnya di masa pandemi covid 19. Menurutnya potensi masyarakat Kota Magelang untuk terus mengembangkan ternak kelinci sangat besar, terutama di masa pandemi covid 19 ini. Peluang untuk menjadi sumber pendapatan baru masyarakat juga sangat terbuka berkaca pada tren kebutuhan daging kelinci dan ternak kelinci sebagai hewan kesayangan yang terus meningkat dengan ceruk pasar masih sangat terbuka.  “Saya melihat atensi masyarakat Kota Magelang juga sangat baik. Mudah-mudahan agribisnis ternak kelinci ini dapat berkembang dengan segenap diversifikasi produknya seiring pengembangan Urban Farming sekaligus berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan peternak kelinci,”tegasnya.

Terinformasi dalam kesempatan pelatihan ini empat narasumber membagikan pengalamannya dalam beternak kelinci dan sejumlah motivasi kepada para peserta. Adapun fokus materi pelatihan yang disampaikan keempat narasumber dari komunitas kelinci  “RepublikTerwelu” itu yaitu PengenalanTeknis Budidaya Kelinci (Basuki dan Muhklasin) dan Manajemen Pemasaran dan Diversifikasi Produk Olahan Kelinci (Aryono Septa dan Agung Soewarno). Secara umum untuk sukses dalam agribisnis ternak kelinci perlu sinergitas antara pengembangan budidaya dan manajemen pemasaran ternak kelinci. Sukses beternak kelinci sangat penting, namun jauh lebih penting lagi aspek pemasaran perlu dikuasai peserta sebagai tolok ukur berjalannya ternak kelinci secara berkesinambungan. “Kendala pasti banyak namun dengan niat dan usaha tentunya peluang ekonomi dapat kita ciptakan dari ternak kelinci,”cetus Aryono Septa, salah satu narasumber.

Terkait budidaya ternak kelinci, para narasumber kompak menyatakan bahwa beternak kelinci itu tidak sulit tetapi peserta juga tidak boleh dianggap mudah.  Kuncinya peternak harus memiliki kasih sayang dan perhatian kepada ternak kelinci. Dirangkum dari narasumber, potensi pasar ternak kelinci sangat besar karena jaminan harga daging per kilogram yang stabil dari waktu ke waktu, yaitu di kisaran Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram hidup. Belum lagi potensi olahan rica dari tulang dan kerajinan kulit kelinci. Potensi penjualan sate kelinci juga sangat besar. Bisa dibayangkan bila berbicara pasar angkringan, 1 angkringan biasanya membutuhkan 40 tusuk sate per hari. Kalau ada 5 angkringan saja  yang menjual sate daging kelinci artinya ada potensi penjualan 200 tusuk sate/hari dengan margin keuntungan 100%. Asumsi itu diungkap salah satu narasumber, Agung  Soewarno yang saat ini banyak berkecimpung di bidang usaha kuliner dan Coffee Shop.

Terpisah Kasi Peternakan, Sugiyanto berharap kegiatan ini di masa pandemi covid 19 menjadi embrio baru terus berkembangnya ternak kelinci dan usaha masyarakat berbasis kelinci hingga ke varian produknya seperti sate, abon, rica dan nugget. “Diversifikasi produk tentunya kami harapkan dapat menjadi sumber pendapatan baru masyarakat  selama menghadapi pandemi covid 19 sekaligus berkontribusi lebih baik dalam pengembangan Urban Farming di Kota Magelang,”pungkasnya. (among_wibowo, red)