Lagi, Disperpa Edukasi Gropyokan Tikus Di Sidotopo Untuk Amankan Target Produksi Padi Kota Magelang

MAGELANG – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang hari jumat (15/11/2019) kembali mengedukasi petani untuk menggelar gropyokan tikus di hamparan persawahan seluas 4 hektar. Kegiatan dilaksanakan bersama sekitar 20 orang anggota Kelompok Tani (Poktan) Arum Sari 1 di areal persawahan Sidotopo Kelurahan Kedungsari, Magelang Utara-Kota Magelang. Kegiatan didampingi langsung Seksi Tanaman dan Pangan Hortikultura (TPH) dan KJF Penyuluh Pertanian.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam pointer yang disampaikan Kepala Seksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Ahmad Sholikhun mengatakan tujuan utama kegiatan gropyokan tikus adalah mengendalikan populasi hama tikus di areal persawahan agar dapat mengamankan target produksi padi di Kota Magelang. Ia memaparkan sepanjang tahun 2019, target produksi padi Kota Magelang sejumlah 2.359 ton gabah kering panen (GKP). Target tersebut diupayakan dari luas lahan baku  sawah 142,83 ha, dengan Indeks Pertanaman 2,78 dan asumsi produktivitas rata-rata 5,95 ton/ha. “Disperpa selalu siaga terhadap serangan hama tikus demi mengamankan capaian target produksi tersebut,”tandasnya.

Dalam hal ini Disperpa selalu menekankan kepada petani untuk rajin menjaga sanitasi atau kebersihan lingkungan persawahan. Secara umum, lanjutnya, tikus menyukai lahan sawah yang kotor (banyak rerumputan,red) sehingga sangat penting bagi petani untuk terus menjaga kebersihan lahan sawahnya. “Sanitasi lingkungan yang baik akan dapat menekan populasi hama tikus sehingga langkah pengendalian populasi tikus pun tidak akan sesering pada lahan yang kotor,”tegasnya.

Sementara itu Penyuluh Pertanian Madya pada Disperpa, Among Wibowo menambahkan kalaupun masih ada serangan tikus setelah sanitasi lingkungan sawah baik, biasanya hanya bersifat spot-spot saja dan Disperpa masih punya jurus pamungkas dengan rodentisida Basmikus 66 PS dan Petrokum, seperti yang diaplikasikan dalam gropyokan tikus kali ini. Tikus yang telah terbunuh/tertangkap hanya merupakan indikasi turunnya populasi. “Yang perlu diwaspadai adalah populasi tikus yang masih hidup, karena akan terus berkembang biak dengan pesat selama musim tanam padi,”ungkapnya

Among meminta petani untuk intensif melakukan monitoring keberadaan dan aktivitas tikus sejak dini agar usaha pengendalian dapat berhasil. Menurutnya cara monitoring dapat dilakukan dengan melihat lubang aktif, jejak tikus, jalur jalan tikus, kotoran atau gejala kerusakan tanaman. “Tidak kalah pentingnya selalu mewaspadai kemungkinan terjadinya migrasi (perpindahan tikus) secara tiba-tiba dari daerah lain dalam jumlah yang besar,”ujarnya.

Menurutnya kelompok tani perlu terus menjaga kebersamaan antar anggota dalam setiap tahapan usahataninya. Kekompakan anggota dalam usaha tani harus dimulai dari keserempakan waktu tanam dan aktivitas-aktivitas usahatani lainnya seperti pemupukan, pengairan dan pengendalian hama dan penyakit. “Ketidakserempakan waktu tanam mengakibatkan perpindahan hama tikus dari satu lokasi ke lokasi yang lain sehingga menyulitkan pengendalian hama tikus di persawahan,”jelasnya.

Terinformasi, tikus sawah merupakan salah satu hama penting pada  tanaman padi karena tingkat perkembangbiakannya yang cepat. Dari sepasang induk tikus dapat beranak pinak hingga mencapai sekitar 5.000 ekor per tahunnya.  Tiap tahun, menurut sejumlah riset reproduksi tikus, serangan tikus mencapai lebih dari 17 % dari total luas areal padi di Indonesia. (amw, red)