Intregated Urban Farming, Strategi Disperpa Kota Magelang Perkuat Pembangunan Pertanian Perkotaan

*Edisi HUT Kota Magelang ke-1113

“Ayo Ke Magelang 2020 Menuju Kota Magelang Moncer Serius”

(Bagian I)

 

MAGELANG- Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang memiliki upaya tinggi dalam mendongkrak dan memperkuat pembangunan pertanian perkotaan demi menjaga ketahanan pangan di masa depan. Sistem pertanian perkotaan atau urban farming dianggap menjadi solusi tepat untuk menjawab tantangan jaman. Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) sebagai OPD teknis sektor pertanian di Kota Magelang. bertekad mewujudkan Kota Magelang sebagai kota kecil yang mampu menunjukkan eksistensinya di dunia pertanian, sekalipun dihadapkan dengan semakin berkurangnya luas lahan pertanian.

Kota Magelang saat ini merupakan bagian dari kawasan Puwomanggung (pengembangan Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kota Magelang dan Kabupaten Temanggung) sesuai Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Tengah. Kota yang dikenal sebagai Kota Gethuk ini terus berinovasi demi menangkap peluang-peluang emas atas kebijakan itu.

Kepala Disperpa Kota Magelang, Eri Widyo Saptoko mengklaim bahwa integrated urban farming (pertanian perkotaan terpadu) yang akan diterapkan di Kota Magelang berbeda dengan daerah lain. Implementasinya merupakan keterpaduan suatu kolaborasi antara pertanian, pangan, peternakan dan perikanan. “Tapi sentralnya, tetap pada pertanian dan pangan,” kata Eri di kantornya.

Eri tidak menampik, kawasan perkotaan lambat laun semakin padat. Luas lahan pertanian (sawah dan tegalan) di Kota Magelang pada tahun 2018 tersisa sekitar 161,34 hektar dengan rincian luas lahan sawah 142,83 hektar dan luas lahan tegalan 18,51 hektar. “Semakin terbatasnya lahan membuat kegiatan berkebun jarang ditemukan di kota, belum lagi masyarakatnya disibukkan dengan aktivitas pekerjaan,”ujarnya.

Menurutnya, masyarakat dapat memanfaatkan lahan sempit seperti pekarangan rumah menjadi lahan produktif. Selain dapat memenuhi kebutuhan konsumsi harian. Berkebun di sekitar tempat tinggal juga bersifat rekreasi. “Untuk lahan yang sempit, aktivitas bisa dimulai dengan menanam cabai, tomat, terong atau sayuran seperti selada dan sawi. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk mencoba jenis tanaman lain sebagai variasi,” bebernya.

 

   

Tingkatkan Provitas Padi Sawah dan Kembangkan Added Value Anggrek

Sebagai sentral dari kegiatan integrated urban farming, sektor pertanian difokuskan pada peningkatan provitas padi sawah dan pengembangan nilai tambah (added value) tanaman hias. Kepala Bidang Pertanian, Agus Dwi Windarto mendorong para petani Kota Magelang untuk lebih memaksimalkan lahan yang ada. Ia mengharapkan Kota Magelang nantinya dapat menjadi sentra benih padi unggul dan sentra beras organik. “Ke depan arah kebijakan Disperpa untuk sub sektor tanaman pangan adalah spesialisasi produksi benih padi varietas unggulan (Magelang Seed Center) dan produksi beras khusus seperti beras organik,”katanya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Madya, Among Wibowo menjelaskan terkait pengembangan tanaman hias di Kota Magelang, konsep pengembangan Kampung Anggrek sangat menarik untuk dijalankan. Mengingat banyak sekali koleksi bunga anggrek khas Magelang, utamanya jenis Vanda tricolor. Menurut Among perlu dilakukan inisisasi tumbuhnya Kampung Anggrek di Kota Magelang. Kampung Anggrek, lanjutnya, diharapkan menjadi destinasi wisata tani, media pembelajaran masyarakat, wisata belanja bunga anggrek dan berfungsi sebagai pusat koleksi bunga anggrek. “Beberapa contoh koleksi anggrek yang dapat dibudidayakan antara lain adalah Vanda, Cattleya, Oncidium dan Dendrobium,”jelasnya.

Bila terwujud, inovasi Kampung Anggrek juga dapat menjadi swalayan anggrek. Pengunjung dapat membeli anggrek berbagai jenis dan ukuran lengkap dengan peralatannya seperti pot dan media tanam yang lain. Mereka dapat memilih sendiri bunga-bunga anggrek yang tersedia. Terinformasi saat ini di Kota Magelang sudah ada rintisan Kampung Anggrek di wilayah Kelurahan Tidar Selatan.

Kampung Anggrek dapat mendukung rencana peningkatan fungsi green house bunga anggrek di Disperpa sebagai swalayan bunga anggrek. Swalayan bunga anggrek memungkinkan buka sampai malam untuk mengakomodir kebutuhan wisatawan yang ingin berbelanja bunga anggrek,” imbuhnya menirukan gagasan dari Kadisperpa beberapa waktu lalu.

Di tempat terpisah, Kasi Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Ahmad Sholikhun menyatakan pihaknya berupaya memperkuat branding anggrek Kota Magelang dan optimalisasi fungsi Laboratorium Kultur Jaringan (Lab Kuljar). Disperpa, lanjut Sholikhun, tengah menyiapkan roadmap pengembangan anggrek. Saat ini sudah ada rencana untuk mengoptimalkan hasil produksi bibit anggrek dan memberdayakan pelaku usaha tanaman anggrek. “Disperpa juga sedang menyiapkan lahan di daerah dataran tinggi Kabupaten Magelang untuk mendukung proses aklimatisasi atau pembungaan anggrek,”tukasnya.

Disinggung keterlibatan pelaku usaha agribisnis tanaman hias/anggrek dia menyatakan pihaknya terus mendorong mereka untuk kreatif berinovasi sehingga memperoleh keuntungan tambahan dari usaha yang dilakukan. Untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pelaku yang masih pemula, Disperpa juga intensif memberikan pelatihan-pelatihan tanaman hortikultura tak terkecuali anggrek.

Terinformasi idealnya pembesaran bibit anggrek botolan hasil kultur jaringan dilakukan di Green House Disperpa Kota Magelang hingga kira-kira 18-24 bulan. Selanjutnya untuk menyerempakkan berbunga, tanaman anggrek dipindahkan ke lahan aklimatisasi selama sekitar 2-3 bulan. Setelah berbunga, tanaman anggrek dibawa kembali ke Kota Magelang untuk dipasarkan ke konsumen. Roadmap seperti ini diyakini dapat meningkatkan keuntungan pelaku usaha anggrek di Kota Magelang yang selama ini hanya menjual bibit yang masih kecil hingga remaja.

Untuk mempermudah pola usaha pelaku usaha akan dibuat pola budidaya dengan pembagian kluster. Para petani anggrek akan dibagi ke dalam beberapa kluster. Yakni menangani usai 0-6 bulan, usia 6-12 bulan, dan usai 12-18 bulan. Dengan spesialisasi penanganan seperti ini, diharapkan perputaran modal bisnis petani anggrek lebih cepat dan lancar. Konektivitas budidaya anggrekpun berjalan. (among_wibowo, red)