Gropyokan Tikus Cacaban

Belasan petani di Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah dibantu Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang melakukan upaya pembasmian hama tikus dengan sistem gropyokan, Senin (8/10). Hasilnya, puluhan tikus ditangkap dan dimusnahkan. Kepala Disperpa Kota Magelang, Eri Widyo Saptoko mengatakan, aksi gropyok ini merupakan hasil sinergi Bidang Pertanian Penyuluh Pertanian Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dan petani anggota Poktan Marsudikismo Cacaban.

Kegiatan menyasar sejumlah lahan pertanian di areal persawahan Cacaban, di antaranya lahan pertanian yang sebelumnya disinyalir terdapat banyak sarang tikus. "Petani itu kan pejuang pangan, maka harus selalau disupport kegiatannya. Di sini kita akan terus hadir untuk memastikan petani dapat beraktivitas secara nyaman dan terselesaikan berbagai permasalahannya," kata Eri, Selasa (8/10). Pihaknya juga mendukung para petani yang berkorelasi dengan upaya pencapaian target Luas Tambah Tanam (LTT) Kota Magelang.

Ia menyebut dalam tiap bulannya didapat rata-rata 30 hektar. "Gropyokan hama tikus bersifat pengendalian rutin untuk meminimalkan dampak serangan selama pertanaman padi sawah musim ini. Meski serangan tikus belum mewabah, gropyokan perlu dilakukan agar populasi hama tikus dapat dikendalikan,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Bidang Pertanian, Disperpa Kota Magelang, Agus Dwi Windarto berpesan, para petani untuk mewaspadai serangan hama tikus. Terlebih pada musim pancaroba, karena perkembangan hama tikus akan cukup signifikan. "Pelaksanaan gropyokan tidak hanya untuk membasmi tikus saja, tetapi menutup sarang tikus yang berada di tanggul pertanian,” katanya.

Saat gropyokan, mereka menggunakan dua teknik yang berbeda, yaitu basmikus dan klerat. Basmikus adalah racun tikus yang ditabur di lubang tikus aktif sedangkan klerat yang juga bersifat racun, tetapi ditaburkan di makanan yang disukai tikus.

"Penggunaan basmikus lebih efektif dilaksanakan pada saat tanaman sudah memasuki fase generatif, sedangkan klerat efektif digunakan pada saat awal tanam hingga tanaman menjelang memasuki fase generatif," ujarnya. Terpisah, Among Wibowo, Penyuluh Pertanian Madya berharap agar petani terus mendapatkan pendampingan dari para penyuluh.

Termasuk soal pengamatan dini terhadap hama dan penyakit disertai gropyokan tikus, karena hal itu bisa menunjang produksi padi. "Kegiatan ini penting untuk memastikan petani dapat sukses meraup hasil panen padi yang telah diusahakannya selama 4 bulan,” katanya. (humaspemkotmagelang)