Disperpa Kota Magelang Dorong Masyarakat Kembangkan Olahan Pangan Non Beras

Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang mendorong masyarakat untuk melaksanakan diversifikasi pangan dengan mengembangkan olahan pangan non beras. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan pentingnya konsumsi pangan lokal yang beragam, mendorong dan meningkatkan kreativitas masyarakat dalam mengembangkan atau menciptakan menu pangan berbasis sumberdaya lokal dan membangun budaya keluarga untuk mengkonsumsi aneka ragam jenis pangan.

Terkait dengan hal itu Disperpa menyelenggarakan Pelatihan Pengolahan Pangan Non Beras bagi anggota PKK Kota Magelang dan masyarakat pada akhir pebruari lalu selama 3 hari (26 – 28 Pebruari 2019) ke sejumlah daerah, antara lain Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Ir. Eri Widyo Saptoko, M.Si menyatakan bahwa pangan sebagai kebutuhan manusia yang tidak dapat ditunda-tunda, harus tersedia setiap saat dalam jumlah yang cukup. Berdasarkan atas pentingnya pemenuhan kecukupan pangan, kata Eri, pembangunan di bidang ketahanan pangan harus didahulukan sebagai fondasi bagi pembangunan di sektor lainnya. “Ketahanan pangan akan tercapai apabila ketersediaan pangan merata, terjangkau, serta cukup baik dari segi jumlah, mutu, keamanan maupun keberagamannya,”ujarnya.
 

Pada hari pertama peserta mendapatkan materi pengantar dan persiapan praktek olahan pangan lokal di aula Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang. Hari kedua peserta melaksanakan kegiatan praktek olahan pangan non beras di Rumah Ketela Borobudur, Kabupaten Magelang. Dan pada hari terakhir, dilaksanakan kunjungan lapangan ke pengolah pangan lokal Super Roti Rumah Bekatul Globalnet di Kabupaten Semarang. Secara umum gambaran kegiatan selama tiga hari sebagai berikut :

Pelatihan hari pertama

Narasumber ibu Maidar pemilik Rumah Ketela Borobudur. Menyampaikan bahwa pangan lokal bisa dijadikan makanan yang tidak kalah menarik dengan pangan yang berbahan baku impor seperti terigu. Pengolahan ini memerlukan kreativitas dan variasi sehingga tercipta hasil masakan yang menarik dan lezat.

Pelatihan hari kedua

Peserta pelatihan praktek mengolah makanan di Rumah Ketela Borobudur. Makanan yang diolah berupa risoles mocaf, talam ubi ungu, egg roll mocaf dan cake pisang.

Pelatihan hari ketiga

Kunjungan ke Super Roti Rumah Bekatul Semarang. Di Super Roti, bekatul beras merah dan biji nangka bisa diolah menjadi berbagai macam roti.

Pelaksanaan kegiatan tersebut, menurut Eri, tak lepas dari upaya penganekaragaman yang dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu melalui pemanfaatan bahan-bahan lokal yang sampai saat ini penggunaannya masih terbatas dan melalui pengembangan teknologi pengolahan untuk memperbaiki proses tradisional yang sudah ada.

Melalui pengembangan teknologi pengolahan diharapkan berbagai sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi produk olahan pangan yang lebih bervariasi, bergizi dan menarik. Pengembangan sumber daya lokal sebagai bahan baku produk olahan pangan dapat mendukung upaya penganekaragaman pangan, memberi nilai tambah, serta menciptakan kesempatan kerja yang baru. (among_wibowo, red)