Amankan Target Produksi, Disperpa Gelar Gropyokan Tikus Di Kedungsari

MAGELANG – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang hari kamis (05/09/2019) kembali menggelar gropyokan tikus. Kegiatan kali ini dilaksanakan bersama Kelompok Tani (Poktan) Arum Sari 2 di areal persawahan Kelurahan Kedungsari, Magelang Utara-Kota Magelang. Kegiatan yang melibatkan belasan orang itu dihadiri langsung Kepala Bidang Pertanian, Kasi Tanaman dan Pangan Hortikultura (TPH), Penyuluh Pertanian, Babinsa Kedungsari dan sejumlah petani di Kelurahan Kedungsari dan Wates.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam pesan yang disampaikan Kepala Bidang Pertanian, Agus Dwi Windarto mengatakan tujuan utama kegiatan gropyokan tikus adalah untuk mengendalikan populasi hama tikus di areal persawahan agar dapat mengamankan target produksi padi di Kota Magelang. Ia memaparkan sepanjang tahun 2019, target produksi padi Kota Magelang sejumlah 2.359 ton GKP. Target tersebut diupayakan dari luas lahan baku  sawah 142,83 ha, dengan Indeks Pertanaman 2,78 dan asumsi produktivitas rata-rata 5,95 ton/ha. “Disperpa selalu siaga terhadap serangan hama tikus demi mengamankan capaian target produksi tersebut,”tandasnya.

Kasi Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Ahmad Sholikhun bersama Koordinator Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kabupaten/Kota Magelang, I Made Redana mengungkapkan hal yang senada. Keduanya bahkan menekankan selain pengendalian melalui cara pemberantasan,  petani juga diharapkan untuk rajin menjaga sanitasi atau kebersihan lingkungan persawahan. Hal ini karena secara umum tikus menyukai lahan sawah yang kotor(banyak rerumputan,red). “Sanitasi lingkungan yang baik dapat menekan populasi hama tikus,”tegasnya.

Sholikhun menambahkan kalaupun masih ada serangan tikus setelah sanitasi lingkungan sawah baik, sifatnya spot-spot saja dan Disperpa masih punya jurus pamungkas dengan rodentisida Basmikus 66 PS dan Petrokum, seperti yang diaplikasikan dalam gropyokan tikus kali ini. Tikus yang telah terbunuh/tertangkap hanya merupakan indikasi turunnya populasi. “Yang perlu diwaspadai adalah populasi tikus yang masih hidup, karena akan terus berkembang biak dengan pesat selama musim tanam padi,”ungkapnya

Sementara itu, Among Wibowo, Penyuluh Pertanian Madya pada Disperpa meminta petani untuk intensif melakukan monitoring keberadaan dan aktivitas tikus sejak dini agar usaha pengendalian dapat berhasil. Menurutnya cara monitoring dapat dilakukan dengan melihat lubang aktif, jejak tikus, jalur jalan tikus, kotoran atau gejala kerusakan tanaman. “Tidak kalah pentingnya selalu mewaspadai kemungkinan terjadinya migrasi (perpindahan tikus) secara tiba-tiba dari daerah lain dalam jumlah yang besar,”ujarnya.

Kelompok tani, lanjutnya, perlu terus menjaga kekompakan antar anggota di areal hamparan sawah yang diusahakannya. Kekompakan anggota dalam usaha tani harus dimulai dari keserempakan waktu tanam dan aktivitas-aktivitas usahatani lainnya seperti pemupukan, pengairan dan pengendalian hama dan penyakit. “Ketidakserempakan waktu tanam mengakibatkan perpindahan hama tikus dari satu lokasi ke lokasi yang lain sehingga menyulitkan pengendalian hama tikus di persawahan,”jelasnya.

Terinformasi, tikus sawah merupakan salah satu hama penting pada  tanaman padi karena tingkat perkembangbiakannya yang cepat. Dalam 1 tahun, dari sepasang induk tikus dapat beranak pinak hingga mencapai sekitar 5.000 ekor. Tiap tahun, menurut riset reproduksi tikus, serangan tikus mencapai lebih dari 17 % dari total luas areal padi di Indonesia. (amw, red)